Kerajaan Sulawesi Selatan (Goa—bone—luwu—wajo—soppeng—tallo)

Standar


Asal mula masyarakat Sulawesi Selatan menurut I La Galigo (dari dunia mitologis) adalah Dewa Pototu (atas persetujuan dewa-dewa) mengutus putranya, Batara Guru ke bumi dimana ia berjumpa dengan we Niyilimo, putrid dewa daerah bawah bumi, dan .keturunannyalah yang berkuasa di Luwu.
Tradisi Bugis-makassar menuturkan mitos asal mula kerajaannya kembali kepada seorang dewi yang turun ke bumi, To manurung, yang bersedia ditahtakan oleh rakyat. Dia didampingi oleh suatu dewan penasehat yang terdiri atas pemimpin-pemimpin rakyat. Kecuali kerajaan luwu dan Goa, peta politik jazirah Sulawesi selatan pada abd ke XVI menunjukkan pula kerajaan Wajo, soppeng, tallo dan Bone., kesemuanya terdiri atas rumpun-rumpun komunitas sebagai unit politik yang sudah terintegritas dari dulu. Proses integrasi internal tersebut berkelanjutan dengan proses integrasi eksternal yaitu adanya ekspansi oleh kerajaan-kerajaan tersebut.
Gerakan ekspansi luwu menikuti pantai timur jazirah sampai ke Sungai Cenrana. Pada akhir abad XV-XVI datu luwu, Raja dewa, menjalankan politik persekutuan dengan Wajo. Untuk memperkuat kedudukan Wajo beberapa daerah diserahkan, antara lain larompong, malusse dan selo. Di dalam tradisi persekutuan itu disebut sebagai hubungan antara saudara tua dan saudara muda dan dengan demikian dinyatakan bahwa status Luwu lebih tinggi dari wajo.
Sementara itu pengaruh Wajo semakin besar terutama karena perdagangan maju serta hubungannya denngan dunia luar semakin luas. Sidenreng sebagai tempat strategis menjadi sasaran serangan Luwu, dua kali dapat dielakkan akan tetapi, Sidenreng terpaksa menyerah dalam serangan ketiga waktu Luwu menyerang dari lautdan Wajo membantu dari daratan.
Satu tahun kemudian Lluwu menyerang Bone disebabkan oleh percekcokan antara Raja Dewa dan Arumpone, RajaDewa terpaksa melarikan diri, panji Luwu direbut oleh pasukan Bone dan akhirnya Rajadewa terpaksa menandatangani suatu perjanjian yang disebut Polo Malelae di Unnyi. Dengan begitu Luwu diganti kedudukannya oleh Bone di bagian timur jazirah.
Kerajaan Bone tergabung dari tujuh gabungan politik inti, yaitu Ujung, Tibojong, Ta, Tanete Riattang, Tanete Riawang, Ponceng dan Macege. Setiap init dipimpin oleh seorang Matoa atau Daeng Kalula, mereka menjadi dewan yang disebut Daeng kalula, mereka menjadi Dewan yang disebut Matoa Pitu kemudian juga disebut Aruppitu. Waktu daerah kerajaan menjadi lebih luas, daerah inti disebut kawerrang atau Watampone. Di bawah pemerintahan La Tenrisukki dan putranya La Wulio Botee, terjadi lagi serangan luwu berkali-kali tetapi dapat dielakkan. Dalam perebutan hegemoni Bone dibantu oleh Goa, sedang Luwu bersekutu dengan Wajo.
Seperti halnya dengan Bone, Goa semula terdiri atas Sembilan unit politik, salapang namanya. Ialah : Tombolo, Lakiung, Parang-parang, data, Agang jene, Saumata, Bissei, Sero, dan Kalii. Mitos tentang sejarah awal kerajaan Goa juga menyebut kedatangan Tomanurung pada saat banyak kekacauan terjadi. Ketertiban dapat dipulihkannya, bersama suaminya, karaeng Bayo memerintah Goa. Di bawah pemerintahannya Tumapa risi Kallona diperkuat kesatuan unit-unit antara Goa dan Tallo.
Dalam menjalankan ekspansi, Goa dapat menaklukkan Siang, kemudian di bawah pemerintahan Tunipalangga (1546-1565) ditundukkan Bone. Selanjutnya tercatat dalam kronik Goa bahwa dia berturut-turut melakukan operasi militer dan menaklukkan daerah-daera, ialah kerajaan-kerajaan kecil yang berbatasan dengan Bone, kerajaan-kerajaan di pegunungan belakang Maros dan yang ada di sebelah selatan. Yang penting di antaranya ialah Suppa, Wajjo, Sawiito.
Proses integrasi di kerajaan-kerajaan sulsel selama bagian kedua abad XVI aliansinya berubah-ubah. Dalam konselasi poitik tersebut, peranan penting dipegang oleh Bone dan Goa yang saling berebut supremasi, maka proses tersebut dari semula menunuukkan polarisasi. Faktor geografis yakni adanya gunung di antara keduanya membuat pengahambat ekspansi. Waktu tiga daerah perbatasan yang menjadi persengketaan antara kdua kerajaan tersebut, yaitu Bulo-bulo, lamati, dan Raja, menggabungkan diri dalam Bone. Dalam perang yang berikut daerah-daerah tersebut terpaksa dikembalikan  kepada Goa. Tahun 1536, Goa melakukan ofensif lagi dengan bantuan dari Luwu, wajo, dan sidenreng. Dalam pertempuran cellu, tunipalangga mendapat luka-luka dan terpaksa mengundurkan diri. Dua tahun kemudian ia melancarkan serangan lagi, tetapi segera menarik psukannya. Sepeninggalnya (tahun 1565), perang dilanjutkan oleh Tunibatta yang terbunuh dalam pertempuran di campa.
Bone memaksa Goa untuk memperbarui perjanjian Celoppa pada tahun 1565 itu juga, yang menetapkan perbatasan antara kedua Negara itu serta beberapa daerah masuk wilayah Bone, antara lain Cenrana.
Meskipun Tunijalonsejak memegang pemerintahan di Goa (1565) tidak meneruskan perjuangan perang melawan Bone, namun Bone semakin khawatir menghadapi pertumbuhan kerajaan Goa politik Tunijallo diarahkan hubungan perdagangan dan politik dengan petani, Johor, banjar, blambangan, dan Maluku. Terutama hubungannya dengan ternate sangat mengancam kekuasaan Bone.
Untuk menghadapi ekspansi Goa, maka Goa, maka Bone memperkokoh persatuannya dengan wajo dansoppeng. Dan membentuk persekutuan tiga, disebut Tellumpocco(tiga kekuasaan), yaitu Bone sebagai saudara tua, wajo saudara tengah dan soppeng saudara muda (1582).
Sampai pembaruan perjajian Caleppa, wajo dan soppeng masuk lingkungan pengaruh Bone, menjadi vasalnya(budak), untuk memperkokoh aliansi ketiga kerajaan, maka Bone segera member status yang sama kepada wajo dan soppeng. Maka dari itu ketika tahun 1583 wajo diserang Goa, dengan mudah dielakkan serangan itu, karena mendapat bantuan dari Bone dan soppeng. Serangan itu terulang lagi pada tahun 1585 dan 1588 akan tetapi tidak berhasil lagi. Bahwasannya Tellumpocco cukup kuat terbukti lagikarena srangan Goa tahun 1590 terhadap Bone gagal lagi. Tunijallo menemui ajalnya dalam perang itu, terbunuh oleh seorang pengikutnya sendiri.
Sepeninggal tunijallo dan Arumpone La tentirawe (1584) kerajaan Goa-bone mengalami ketidakstabilan di dalam negeri, antara lain kelaliman Arumpone La ica dan agresinya. Pada tahun 1593 Daeng Manrabia naik tahta di Goa dan didampingi oleh Karaeng Matoya dari Tallo, seorang penguasa muda yang telah berpengalaman sebagai panglima perang, penguasa dan administrator. Pada tahun 1605 ia mengikuti jejak Manrabbia (Sultan alauddin) masuk islam dan dua tahun kemudian rakyat Makassar dari Goa dan Tallo menyusul 1607. Dengan peristiwa-peristiwa-peristiwa itu sejarah Sulawesi selatan memasuki babak baru.
Pada awalnya proses islamisasi meningkatkan polarisasi politik di sulsel. Lebih-lebih waktu Bone, wajo, da soppeng, menolak ajakan Goa. Hanya luwu yang bekerjasama dengan Goa. Tidak lain karena telah masuk islam pula. Dalam perang-perang yang berkobar dalam dasawarsa pertama itu ternyata Tellumpocco cukup gigih mengelakkan serangan Goa. 1608 doppeng diserang, tetapi pasukan Goa dikalahkan di Pakenya. Tiga bulan kemudian wajo diserang, tetapi tidak dapat ditundukkan. Sementara itu tiga vasalnya meninggalkan kerajaan. Meskipun mengalami kekalahan terus, Goa sebagai perintis agama islam pantang mundur. Walaupun tellumpocco semula tetap bertahan, akhirnya satu per satutakluk, sidenreng dan soppeng pada tahun 1609, wajo pada tahun 1610, dan bone pada tahun 1611.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s